Adu Kerbau Sampai Jungkir Balik

Channel: Banny A.n

368,430

TIP: Right-click and select "Save link as.." to download video

Initializing link download... Initializing link download.....

Klik di sini http://perawatanternakbudidaya.blogspot.com/2013/05/cara-ternak-kerbau-yang-baik.html



Kerbau bule yang digelari Kyai Slamet di Solo, setiap malam satu Suro (Muharram) ribuan orang datang untuk menyaksikan kirab sakral sang ‘kyai’ yang mengitari kawasan alun-alun keraton. Ada lagi haiwan bulus (kura-kura) di Klaten,Jawa Tengah yang dikeramatkan dan dipercaya bisa mendatangkan kekayaan.
Mitos haiwan keramat ini dikembangkan dengan mengisahkan kejadian-kejadian yang dikaitkan dengan perlakuan terhadap haiwan tersebut.

Kerbau Albino bukan Kerbau Biasa
Sepintas, kerbau ini hanya terlihat berbeda dari warna kulitnya. Akan tetapi, ini bukan kerbau biasa, sekawanan kerbau ini dipercayai keramat sebagai Kebo Bule Kyai Slamet. Merujuk kepada buku Babad Solo karya Raden Mas Said, leluhur- kebo bule ini adalah haiwan klangenan atau kesayangan Sunan Paku Buwono II yang merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo. Oleh kerana bertugas menjaga dan mengawal pusaka Kyai Slamet, masyarakat menjadi salah kaprah menyebutnya sebagai Kebo Kyai Slamet.

Dikisahkan Kyai Slamet adalah seorang pekathik (tukang mencari rumput) bagi kerbau bule yang awalnya bernama Kebo Danu, milik Sunan Paku Buwono I (1704-1719) yang bertahta di Kartasura. Kyai Slamet dan istri selaku pekathik ini dikenal menyayangi binatang ternak yang menjadi tanggung jawabnya.

Kedekatan Kyai Slamet dengan kebo bule menyebabkan penyebutan nama kerbau tersebut sering dipersamakan dengan nama Kyai Slamet itu sendiri.

Begitu terlalu dikeramatkan, ketika ada salah satu kerbau yang meninggal, Abdi Dalem Keraton langsung menggelar ritual pemakamannya. Prosesnya dipimpin salah satu abdi dalem yang duduk dekat kerbau sambil mendoakan jasadnya, layaknya pemakaman manusia. Akan tetapi, sebelumya abdi dalem telah menyiapkan sesaji berupa tiga baldi air kembang(bunga) dan kain kapan putih untuk memandikan kebo bule yang meninggal. Tak tertinggal juga, dupa dibakar untuk menambah keheningan selama proses pemakaman.

Layaknya penguburan jenazah manusia, satu per satu abdi dalem memandikan kebo bule secara bergantian. Suasana khidmat pun mengiringi pemakamannya di liang lahad sedalam 1x1,75 meter di kawasan Alun-alun Selatan, tak jauh dari kandang kerbau. Masyarakat yang mendengar berita kematian kebo bule juga bergegas untuk melihat proses penguburannya. Bahkan, ada pula yang sampai berduka. Terkadang memang tidak masuk akal, seekor haiwan begitu dikeramatkan layaknya manusia, tetapi inilah tradisi yang masih dipegang oleh Keraton Kasunanan Surakarta.